TSTMM Bekerja Sama Dengan Bandar Bola SBOBET, Maxbet dan M11bet untuk Situs Judi Bola
Home > Berita Bola > Moment Yang Sempurna Untuk Kebangkitan AC Milan

Moment Yang Sempurna Untuk Kebangkitan AC Milan

AC Milan piagnistei” atau dalam bahasa Indonesia “AC Milan yang merengek”, sempat jadi headline media olahraga Italia yang dikenal pro Juventus, Tuttosport.

Kalimat itu merujuk pada sikap Milan yang berniat memboikot duel Piala Super Italia 2016, lantaran sial mendapati penerbangan yang tertunda akibat cuaca buruk. Hal itu membuat skuat I Rossonerri harus tiba di Doha, Qatar, venue final, sehari selepas kedatangan lawannya, Juve.

“Dari sisi olahraga, kami jelas sangat rugi. Juve telah berada di Doha dan kami tiba sehari kemudian. Kami hanya bisa berlatih sekali sebelum laga. Harus ditemukan solusi untuk ini atau kami takkan berangkat ke sana,” ancam CEO Milan, Adriano Galliani, seperti dikutip ANSA.

Keluh-kesah terhadap situasi macam itu wajar disampaikan, tapi ancaman untuk membatalkan duel bukanlah sikap sejati tim juara, walau solusi akhirnya ditemukan. Belum lagi pemilik Milan, Silvio Berlusconi, memperburuk situasi dengan leluconnya yang kontroversial.

Kakek berusia 80 tahun itu menyebut bahwa seluruh wasit dan pengadil di sepakbola Italia harus diganti, untuk mengakhiri dominasi Juve di Negeri Pizza dalam lima tahun terakhir.

Untungnya para aktor Milan yang bertindak di atas lapangan punya sikap 180 derajat berbeda, dengan dua sosok berdebu yang doyan membanggakan masa lalu tersebut.

Para pemain enggan memberi dukungan pada celotehan Galliani atau Berlusconi, sementara sang pelatih, Vincenzo Montella, tegas berkata bahwa faktor non-teknis takkan jadi alasan bila Milan akhirnya kalah dari Juve.

Sungguh sikap revolusioner, yang nyaris tak pernah kita lihat dalam kehampaan Milan di lima tahun terakhir. Prajurit Si Setan Merah musim ini tampak paham benar artinya mengenakan jersey kebesaran merah-hitam.

Mereka tahu harus selalu memburu kemenangan, entah situasinya sesulit apapun. Satu hal yang membuat Milan bisa berjaya di Serie A Italia sebanyak 18 kali dan tujuh kali puncaki Eropa.

Segalanya sudah terbukti dari performa brilian Milan di paruh pertama Serie A musim ini. Mereka lantas menyempurnakannya dengan hadirkan momentum kebangkitan melalui trofi perdana dalam lima tahun terakhir, Piala Super Italia 2016.

Menghadapi Juve — tim yang menguasai Serie A lima musim terakhir dan tiga kali jadi kampiun Piala Super Italia dalam empat edisi sebelumnya — Milan tampil heroik.

Sempat didominasi di awal laga bahkan tertinggal lebih dahulu akibat gol Giorgio Chiellini di menit 17, Milan bereaksi cepat. Sebelum babak pertama rampung, mereka berhasil samakan kedudukan 1-1 melalui Giacomo Bonaventura di menit 38.

Milan kemudian membuat Juve frustrasi dengan mampu mengimbangi permainan, dalam 120 menit pertandingan. Bahkan statistik menjabarkan bahwa pasukan asuhan Montella, unggul tipis dalam tembakan (17 berbanding 16) dan jumlah umpan (628 berbanding 607).

Satu kejelian Milan adalah konsisten menekan sisi terlemah Juve di sektor kiri pertahanan, yang ditempati oleh bek gaek Patrice Evra. Sebanyak 38 dari total 43 umpan silang yang dilepaskan Il Diavolo Rosso berasal dari area tersebut.

Selain sukses lahirkan gol Bonaventura melalui skema itu, Milan bisa saja menang andai tandukan Alessio Romagnoli tak sial menerpa mistar gawang Juve.

Hasrat besar Milan untuk raih gelar perdana dalam lima musim terakhir, kemudian diterjemahkan dengan jelas melalui babak adu penalti. Mental juara yang lama lenyap, telah kembali.

Sempat di bawah angin akibat kegagalan eksekutor perdana, Gianluca Lapadula, mereka akhirnya menang 4-3 yang diwarnai aksi krusial kiper 17 tahun, Gianluigi Donnarumma, dengan tangkis tembakan eksekutor pamungkas Juve, Paulo Dybala.

Milan juara! Suasana pun pecah. Para pemain, ofisial, petinggi, hingga tentu saja Milanisti meraung bahagia melepas dahaga juara, yang lama tak mereka rasakan.

“Saya senang. Di tahun-tahun belakangan ini kami sangat menderita dan hasil yang diinginkan tak kunjung datang, tapi kegembiraan ini membayar kerja keras kami selama periode menyakitkan tersebut,” ujar Bonaventura, seperti dikutip Rai Sport.

Kemenangan Milan ini juga dibumbui dua fakta manis. Mereka sukses jadi raja turnamen menyamai Juve lewat raihan tujuh trofi, plus merupakan tim pertama yang juara tanpa jadi peraih Scudetto atau Coppa Italia di musim sebelumnya.

Satu kesimpulan dari final Piala Super Italia 2016 ini adalah momentum kebangkitan buat Milan. Ya, harus diakui dalam tiga musim terakhir Milan yang kita kenal sebagai tim juara tampak berubah identitas jadi tim medioker.

Pernah punya predikat sebagai klub dengan koleksi gelar internasional terbanyak di dunia, secara mengenaskan Milan gagal lolos ke turnamen Eropa dalam periode tersebut. Namun dengan performa ciamik di Serie A dan raihan gelar Piala Super Italia musim ini, titik cerah untuk masa depan akhirnya tampak.

Segalanya makin terang, karena Milan diperkuat oleh segudang pemain muda bertalenta. Dengan rata-rata usia 25, 18 tahun, sosok-sosok macam Gialuigi Donnarumma (17 tahun), Alessio Romagnoli (21 tahun), Manuel Locatelli (18 tahun), sampai Suso (23 tahun), sudah jadi pilar utama, pun jadi aktor krusial kemenangan atas Juve.

Tak heran bila sang pelatih, Montella, begitu optimistis dengan masa depan timnya. “Piala Super Italia ini anggap saja sebagai awal dari sebuah era baru di Milan. Ini adalah cara terbaik untuk membukanya dan saya begitu bersemangat menanti masa depan tim ini,” ujarnya, seperti dikutip Mediaset Premium.

Dengan segala yang Milan raih di paruh pertama musim ini, tampaknya memang bukan lagi omong kosong jika dalam waktu dekat kita akan melihat wujud sejati Si Setan Merah di Italia juga Eropa.

You may also like
Ultras Curva Sud Milano Mendesak Milan Hukum Gianluigi Donnarumma
AC Milan Siapkan Pepe Reina andai Gianluigi Donnarumma Hengkang
Gennaro Gattuso Kembalinya ke AC Milan
Ungkapan Salam Perpisahan Keisuke Honda untuk AC Milan

Leave a Reply